Portal Media Online

News

Peristiwa

Showbiz

LOKASI IKLAN

Foto

Video

30 September, 2026

Ketika Asap Menutup Langit Jambi

 

Penulis Nando Nawawi


Oleh: Nando Nawawi

Pagi pukul 07.30 WIB, napas terasa sesak. Matahari menjadi bulan seakan mematikan, tetapi semangat menjalani hidup dan mencintai Indonesia adalah keharusan yang tak pernah padam, Pemandangan pagi itu bukan sekadar persoalan cuaca. Ada sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kita. Udara yang seharusnya menjadi kebutuhan paling dasar manusia justru terasa berat untuk dihirup.

Kabut asap kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jambi. Kita kembali memakai masker, mengurangi aktivitas di luar rumah, dan bertanya-tanya kapan udara akan kembali normal. Sehari setelah statement Kemenhut Raja Juli bahwa asap di Jambi sudah membaik (sumber: TVRI Jambi). Namun fakta hari ini udara Jambi makin parah menyentuh angka ISPU 300. (sumber: www.ispu.kemenlh.go.id)

Perbedaan antara pernyataan dan kenyataan di lapangan tentu perlu menjadi bahan evaluasi. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga membutuhkan kepastian bahwa persoalan yang mereka hadapi benar-benar sedang ditangani.

Ketika angka kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat, persoalannya bukan lagi sekadar pemandangan langit yang kelabu. Ada kesehatan masyarakat, pendidikan anak-anak, aktivitas ekonomi, bahkan keselamatan penerbangan yang ikut dipertaruhkan.

1. Faktor
Tidak ada asap kalau tidak ada api, pepatah lama yang harus kita renungkan.
Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan pertanyaan besar. Dari mana api berasal? Mengapa kebakaran terus berulang? Dan siapa yang harus bertanggung jawab ketika api tersebut berubah menjadi asap yang dihirup jutaan manusia?

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa sebagian besar kebakaran hutan tahun ini sengaja dibakar, bukan terbakar sendiri. Indikasi kuat pembakaran disengaja ini dilakukan baik oleh individu, pekebun biasa, maupun korporasi, salah satunya demi kepentingan pembukaan lahan secara murah. (sumber: PONTV)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak dapat semata-mata dipandang sebagai bencana alam. Ada faktor manusia dan kepentingan ekonomi yang perlu diperhatikan. Namun, setiap dugaan terhadap pelaku tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.

Di Jambi sendiri, Gubernur Jambi Al Haris pada 14 September 2026 menyebut sekitar 80 persen kasus karhutla yang ditangani terindikasi dilakukan secara sengaja. Hingga 13 September, luas lahan terbakar di Provinsi Jambi tercatat hampir 3.000 hektare. (sumber: https://opendata.jambiprov.go.id/)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala besar yang melanda kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang yang membentang di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur, serta kawasan gambut Medak hingga menembus daerah Sumatera Selatan, membuktikan betapa rentannya ekosistem gambut saat musim kemarau.

Ekosistem gambut memang memiliki karakteristik yang membuat kebakaran menjadi persoalan serius. Ketika terbakar, api tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dapat menjalar di bawah tanah dan sulit dikendalikan.

Karena itu, persoalan gambut seharusnya tidak hanya dilihat ketika sudah terbakar. Pengawasan, pemeliharaan, pembasahan kembali, dan pencegahan harus dilakukan jauh sebelum api muncul. Pengalihan status atau penerbitan izin pemanfaatan kawasan hutan lindung oleh Kementerian Kehutanan kepada pihak swasta kerap menjadi titik awal keterancaman ekosistem.

Pada titik ini, kebijakan pemanfaatan kawasan harus ditempatkan dalam pengawasan yang ketat. Pembangunan ekonomi memang penting, tetapi pembangunan tidak boleh membuat fungsi ekologis menjadi korban. Ketika korporasi mengantongi izin, publik kerap dikejutkan oleh pola pelepasan lahan yang diwarnai dugaan kejahatan lingkungan terencana.

Kata “izin” tidak boleh dipahami sebagai izin untuk mengabaikan lingkungan. Setiap izin harus berjalan bersama tanggung jawab. Ketika sebuah kegiatan usaha memiliki potensi risiko ekologis yang besar, maka pengawasan terhadapnya juga harus lebih besar.

Korporasi atas nama pembangunan ekonomi atau hilirisasi industri, fungsi konservasi otomatis terdegradasi. Padahal, pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kepentingan yang harus saling mengalahkan. Kita membutuhkan pembangunan yang menghasilkan nilai ekonomi sekaligus menjaga kehidupan ekologis untuk generasi berikutnya.

Kebijakan ini acap kali menciptakan eksploitasi terstruktur: negara memberikan legalitas formal, sementara perlindungan ekologis bergeser ke pinggir.

Jika hal itu terjadi, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya perilaku individu di lapangan, tetapi juga tata kelola kebijakan. Jangan sampai sesuatu yang secara administratif legal pada akhirnya menghasilkan dampak sosial dan ekologis yang harus ditanggung masyarakat luas.

2. Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kabut asap yang pekat menurunkan kualitas udara ke tingkat sangat tidak sehat sehingga Dinas Pendidikan meliburkan pembelajaran di sekolah, penerbangan yang harus dibatalkan hingga waktu yang belum ditentukan dan ancaman kesehatan masyarakat dalam jangka pendek dan panjang. Dampak tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kehutanan.

Ia sudah menjadi persoalan pendidikan, kesehatan, ekonomi, transportasi, dan kehidupan sosial masyarakat. Pemerintah Kota Jambi bahkan harus memperpanjang pembelajaran jarak jauh setelah kualitas udara berdasarkan parameter PM2.5 mencapai kategori sangat tidak sehat. Anak-anak yang seharusnya belajar di sekolah harus belajar dari rumah. Masyarakat yang seharusnya bekerja dan beraktivitas dengan normal harus beradaptasi dengan kondisi udara yang buruk.

Lalu siapa yang bertanggung jawab?
Pertanyaan ini tidak boleh berhenti sebagai retorika.

Jika kebakaran memang dilakukan dengan sengaja, maka pelakunya harus diproses sesuai hukum. Jika ada korporasi yang terbukti melakukan pelanggaran, maka penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan transparan.

Kementerian Kehutanan sendiri pada September 2026 telah menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan pembakaran hutan dan penguasaan kawasan hutan secara tidak sah di Jambi. Pada saat yang sama, tiga perusahaan di Jambi juga masih dalam proses penyelidikan terkait dugaan pelanggaran karhutla. (sumber: gakkum.kehutanan.go.id)

Artinya, persoalan ini harus ditangani dari hulu sampai hilir. Jangan hanya sibuk memadamkan api ketika kebakaran sudah membesar, tetapi juga memastikan siapa yang menyebabkan, mengapa kebakaran terjadi, dan bagaimana mencegahnya agar tidak berulang.

Pada akhirnya membakar hutan sama saja dengan membakar kehidupan.
Kalimat tersebut bukan sekadar metafora. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Kita juga kehilangan udara bersih, habitat satwa, kualitas tanah, dan rasa aman masyarakat.

Karena itu, sinergi antara peningkatan kesadaran masyarakat dan penguatan kelompok lokal seperti Kelompok Peduli Api (MPA) dan lainnya menjadi kunci utama dalam memutus siklus bencana tahunan ini.

Namun sinergi tidak boleh berhenti pada slogan. Masyarakat harus diberi ruang untuk terlibat dalam pencegahan, sementara pemerintah harus memastikan sistem pengawasan dan penegakan hukum benar-benar bekerja.

Korporasi juga harus ditempatkan sebagai bagian penting dari tanggung jawab ekologis. Keuntungan ekonomi tidak boleh berdiri sendiri tanpa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Karhutla mungkin terjadi setiap tahun, tetapi bukan berarti kita harus menerimanya sebagai sesuatu yang normal. Jambi tidak boleh terus-menerus belajar bagaimana bertahan dari asap. Kita harus belajar bagaimana mencegah asap itu datang.

Sebab pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan sekadar langit Jambi yang kembali biru. Kita sedang memperjuangkan hak setiap orang untuk menghirup udara yang bersih dan hidup dengan aman di tanahnya sendiri.

Realistis, Agus Nazar Sumringah 1 Triliun Ngalir ke Tebo

 

Agus Nazar membuktikan kendala Fiskal tak jadi Penghalang untuk Bangun Tebo

TEBO – Senyum lebar terpancar dari raut Bupati Tebo Agus Rubiyanto dan Wakil Bupati Tebo Nazar Efendi. Pasalnya kinerja Agus Nazar dinilai sangat realiatis dengan apa yang di dapat. Tak tanggung-tanggung duet moncer ini mampu menarik dana pusat senila Rp 1 Triliun ngalir ke Kabupaten Tebo.

Patut dibayangkan, dengan keterbatasan kemampuan fiskal daerah tidak menjadi alasan bagi Pemerintah Kabupaten Tebo untuk berhenti bergerak. Di bawah kepemimpinan Bupati Tebo Agus Rubiyanto, SE, MM bersama Wakil Bupati Tebo Nazar Efendi, SE, M.Si., Pemkab Tebo terus melakukan strategi jemput bola ke pemerintah pusat untuk memperjuangkan dukungan pembangunan bagi masyarakat.

Berbagai kebutuhan pembangunan daerah dibawa langsung ke kementerian dan lembaga pemerintah pusat. Langkah ini dilakukan sebagai strategi untuk memperluas sumber pembiayaan pembangunan, sehingga program-program strategis yang membutuhkan anggaran besar tetap dapat diperjuangkan meskipun ruang fiskal APBD Kabupaten Tebo terbatas.

Upaya tersebut membuahkan dukungan melalui sejumlah program pembangunan berskala besar, khususnya di bidang pendidikan. Di antaranya Proyek Strategis Nasional untuk Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), Program Sekolah Rakyat (SR), serta Program Revitalisasi Satuan Pendidikan.

Jika dihitung berdasarkan nilai dukungan dari sejumlah program pembangunan yang diperjuangkan melalui pemerintah pusat, nilainya mencapai sekitar Rp1 triliun, khususnya dari dua program pendidikan berskala besar, yakni SNT dan Sekolah Rakyat.

Boyong Program SNT Senilai Sekitar Rp300 Miliar

Salah satu dukungan strategis yang diperjuangkan Pemerintah Kabupaten Tebo adalah program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) dengan nilai sekitar Rp300 miliar.

Program tersebut diproyeksikan menghadirkan fasilitas pendidikan terpadu dengan sarana dan prasarana yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Tebo.

Kehadiran program berskala besar ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat pembangunan sumber daya manusia.

Pembangunan daerah, menurut Pemkab Tebo, tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Investasi terbesar untuk masa depan daerah juga harus diarahkan pada peningkatan kualitas manusia melalui pendidikan yang berkualitas dan akses pendidikan yang semakin luas.

Masuknya program berskala nasional tersebut menjadi tambahan dukungan penting bagi Kabupaten Tebo, sekaligus membuka ruang pembangunan yang tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan APBD.

Sekolah Rakyat, Dukungan Sekitar Rp700 Miliar

Selain SNT, Kabupaten Tebo juga mendapatkan dukungan melalui Program Sekolah Rakyat (SR) dengan nilai sekitar Rp700 miliar.

Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan sekaligus memberikan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Nilai dukungan yang mencapai ratusan miliar rupiah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembangunan Kabupaten Tebo terus diperjuangkan pada tingkat pemerintah pusat.

Jika nilai dukungan SNT sekitar Rp300 miliar dan Program Sekolah Rakyat sekitar Rp700 miliar digabungkan, nilainya mencapai sekitar Rp1 triliun.

Angka tersebut menggambarkan besarnya peluang pembiayaan pembangunan yang berhasil dibuka melalui strategi jemput bola pemerintah daerah ke pemerintah pusat.

Tidak Hanya Bangun Baru, Sekolah yang Ada Juga Direvitalisasi

Dukungan pemerintah pusat terhadap sektor pendidikan Kabupaten Tebo juga diperkuat melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan kelayakan sarana serta prasarana sekolah yang telah ada.

Dengan demikian, pembangunan pendidikan di Kabupaten Tebo tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fasilitas baru berskala besar, tetapi juga bagaimana sekolah-sekolah yang selama ini digunakan masyarakat mendapatkan lingkungan belajar yang semakin layak.

Revitalisasi menjadi penting karena kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran, tetapi juga oleh tersedianya lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan mendukung aktivitas belajar mengajar.

Melalui dukungan tersebut, sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Tebo diharapkan semakin memadai sehingga peserta didik maupun tenaga pendidik dapat memperoleh lingkungan belajar yang lebih baik.

Rangkaian program SNT, Sekolah Rakyat dan Revitalisasi Satuan Pendidikan pada akhirnya saling melengkapi. Ada pembangunan fasilitas baru, ada perluasan akses pendidikan, dan ada peningkatan kualitas fasilitas pendidikan yang sudah tersedia.

Kerja Keras Jemput Bola ke Pusat

Rangkaian dukungan tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kabupaten Tebo dalam menghadapi keterbatasan fiskal daerah.

Pemkab Tebo menyadari bahwa pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan APBD. Karena itu, pemerintah daerah terus membuka komunikasi, membangun koordinasi dan memperjuangkan kebutuhan pembangunan daerah melalui berbagai program kementerian dan lembaga pemerintah pusat.

Bupati Agus Rubiyanto bersama Wakil Bupati Nazar Efendi membawa kebutuhan pembangunan Kabupaten Tebo ke tingkat pusat dan memperjuangkan agar dukungan tersebut dapat hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Strategi jemput bola tersebut menjadi salah satu upaya untuk memastikan kebutuhan pembangunan daerah tidak berhenti pada tahap perencanaan.

Bagi Pemkab Tebo, dukungan anggaran dari pemerintah pusat bukan sekadar persoalan besarnya angka. Yang lebih penting adalah bagaimana dukungan tersebut diterjemahkan menjadi pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pendidikan yang lebih layak, fasilitas yang lebih memadai, lingkungan belajar yang lebih baik dan akses pendidikan yang semakin luas merupakan tujuan akhir dari berbagai dukungan pembangunan tersebut.

Di tengah keterbatasan APBD, Pemkab Tebo berupaya mencari dan membuka berbagai sumber dukungan pembangunan agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi. Melalui dukungan pemerintah pusat yang terus diperjuangkan, Pemerintah Kabupaten Tebo berupaya memperkuat pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian dari perjalanan menuju Tebo Cerdas 2030.

Kominfo Tebo

25 September, 2026

Naik Tahap Sidik, Oknum Guru Cabul di Tebo Perdaya Korban dengan Iming-Iming

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Frasetyawan dan Kanit PPA Polres Tebo, Jumat, (25/9/26)

TEBO - Kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang oknum guru honorer disalah satu Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Tebo kini sudah memasuki tahap penyidikan (sidik). Hal ini disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Frasetyawan didampingi Kanit PPA Polres Tebo, Jumat (25/9/2026) diruangannya.

Kasat menyanpaikan jika perkembangan kasus yang mencoreng dunia pedidikan di Tebo kini terus berlanjut. Pasalnya pada proses penyelidikan tahan awal, penyidik sudah memanggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan.

"sudah ada 6 saksi, yakni korban 3 orang dan 3 orang dari orang tua korban yang kita panggil untuk kita gali keterangannya," sebut Kasat meyakini.

Pasca prasidik, rencanaya pihak penyididk bakal menjadwalkan pemanggilan beberapa saksi guna menguatkan proses penyidikan. Ini disampaikan Kasat melengkapi berkas penyidikan dan ditakutkan bakal bertambah korban oknum guru.

"senin kita jadwalkan lagi pemanggilan saksi, ya tidak tertutup kemungkinan kita juga koodinasi dengan pihak dinas PPA sebagai pendampingan," ujarnya.

Saat disinggung sejak kapan kejadian dugaan pelecehan tersebut dilakukan dan apa motif dari oknum guru hingga tega merusak masa depan korban, Kasat bilang kejadian sudah dilakukan sejak kotban masih duduk di kelas 3. sementara motif oknum guru memperdaya korban yakni dengan mengiming-imingi sesuatu.

"korban diiming-imingi sesuatu oleh oknum," kata Kasat pasca saksi korban diperiksa.

Sementara lanjut Kasat jika oknum guru tersebut terbukti bersalah, kepada oknum bakal dikenakan pasal perlindungan anak yakni pasal 418  dan 415, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara.

Redaksi

24 September, 2026

Pelantikan Ketua TP PKK Kecamatan Tebo Ulu

 

Pelantikan Ketua TP PKK Kec Tabo Ulu Sukses

TEBO — Ketua TP PKK Kabupaten Tebo melantik Ketua TP PKK Kecamatan Tebo Ulu yang dilaksanakan di Aula Kecamatan Tebo Ulu, Kamis (24/9).

Pelantikan ini menjadi momentum untuk memperkuat kelembagaan TP PKK di tingkat kecamatan sekaligus meningkatkan koordinasi dalam menjalankan berbagai program pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

Ketua TP PKK Kabupaten Tebo mendorong agar jajaran TP PKK Kecamatan Tebo Ulu dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab serta terus membangun sinergi bersama pemerintah kecamatan, desa, dan seluruh kader PKK.

Redaksi

Wabup Tebo Serahkan Bantuan S-Empat Genting dan Tinjau Pelayanan DMD di Tanah Garo

Wabup Tebo, Salurkan bantuan ke warga Tanah Garo

TEBO - Wakil Bupati Tebo menyerahkan bantuan program S-Empat Genting sekaligus melakukan peninjauan pelayanan Dokter Masuk Dusun (DMD) di Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kamis (24/9).

Penyerahan bantuan menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendukung keluarga dan masyarakat yang menjadi sasaran program S-Empat Genting. Program ini merupakan salah satu langkah kolaboratif dalam mendukung percepatan penanganan persoalan gizi dan stunting di daerah.

Redaksi

Tolak PETI, Warga Puntikalo Desak Polisi Usut Pemicu Konflik Antar Desa

Lokasi jalan desa Puntikalo yang hancur akibat aktifitas PETI

TEBO - Warga Desa Punti Kalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, kembali menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) menggunakan rakit dompeng. Pada Kamis (24/9/2026), sejumlah warga menyebut ada dugaan keterlibatan mantan Kepala Desa Puntikalo dalam aktivitas PETI. Warga juga menduga yang bersangkutan memiliki tempat pembakaran emas sekaligus rakit dompeng. 

Kendati demikian dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dan pembuktian dari pihak berwenang. Tak hanya persoalan aktivitas PETI, warga juga menyoroti dampak yang ditimbulkan akibat aktifitas PETI. Bukan hanya kerusakam lingkungan sungai Batanghari, nanum kerusakan lain tidak kalah parah yakni, hancurnya akses penghubung jalan yang digunakan warga untuk beraktifitas.

Menurut warga, sejumlah rakit dompeng diduga telah beroperasi di wilayah tersebut dan aktivitasnya menyebabkan kerusakan jalan lingkungan. Bahkan, jalan cor beton yang menjadi akses masyarakat disebut mengalami kerusakan hingga terputus akibat aktivitas tersebut.

Warga menegaskan bahwa masyarakat Desa Puntikalo menolak adanya aktivitas PETI di wilayah mereka. Salah seorang warga mengatakan, keberadaan Sungai Batanghari sejak dahulu menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat dan menurut pemahaman warga setempat tidak semestinya digunakan untuk aktivitas dompeng. 

"Dari nenek moyang, Sungai Batanghari ini tidak boleh didompeng," ujar warga.

Konflik antara masyarakat Desa Puntijalo dan Desa Teluk Langkap terkait aktivitas PETI juga disebut telah berlangsung berulang kali. Mulai dari penangkapan rakit dompeng hingga pekerja yang diduga terlibat aktivitas tersebut telah terjadi. Warga Punti Kalo meminta aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas dan menyelesaikan persoalan tersebut agar konflik tidak terus berulang di tengah masyarakat.

Warga juga menagih janji Bupati Tebo yang sebelumnya disebut akan menurunkan personel kepolisian dan TNI untuk menjaga wilayah perbatasan yang menjadi titik rawan konflik antara Desa Punti Kalo dan Desa Teluk Langkap. Masyarakat berharap kehadiran aparat tidak hanya dilakukan saat terjadi penangkapan atau konflik, tetapi juga melalui pengawasan secara berkelanjutan sehingga aktivitas PETI dan potensi gesekan antar warga dapat dicegah.

Redaksi

Setengah Hati, Warga Puntikalo Tanya Ketegasan Aparat dan Pemda

 

Rakit Dompeng yang diamankan Warga Desa Puntikalo beberapa waktu lalu

TEBO - Kekesalan warga Desa Puntikalo sudah diatas ubun-ubun. Pasalnya belasan rakit dompeng yang sebelumnya beraktifitas di Desa Teluk Langkap kini mulai bergeser memasuki Desa Puntikalo.

Warga sudah tidak percaya ligi dengan penindakan hukum yang dilakukan oleh aparat. Aktifitas dompeng sudah semakin merajalela, pendangkalan dan hancurnya tebing sungai sudah sangat kronis.

" warga lah kesal nian, sekarang warga akan bertindak sendiri. kalau persoalan dompeng tidak pernah ditanggapai. akan kami tangkap dan bakar rakit yang berani masuk wilayah kami (puntikalo)," ujar Waga Puntikalo yang namanya tidak mau viral.

Selama ini perangkat desa dan warga Puntikalo sudah menahan sabar. Pasalnya beberapa kali giat mediasi namun kerap menemui jalan buntu atau no solution. "Koordinasi antar desa sudah dilakukan, tapi macam angin lalu be. Mako kini lah geram, gawe nih buat pening be' katanya lagi.

Sementara ini Desa Puntikalo berharap kepada Kades dan perangkat Desa Teluk Langkap untuk melakukan tindakan preventif kepada warganya. "Kades Teluk Langkap harus tegas, himbau warganya jangan berdompeng melewati batas desa," sebutnya.

Dirinya juga berharap kepada Pemkab Tebo dalam hal ini bupati untuk merespon aktifitas dompeng yang sudah meresahkan di desa-desa. "jadi kami mohon kepada bupati, kami menunggu janji bupati untuk menurunkan anggota polisi dan TNI di lokasi desa konflik,: kata warga pasca mediasi konflik dompeng di batas desa.

Redaksi S

23 September, 2026

Korban Cabul Oknum Guru SD di Tebo Enggan Masuk Sekolah

 

Kasat Reskrim Polres Tebo, AKP Very Prasetyawan

TEBO - Korban pencabulan oleh seorang oknum guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Tebo enggan masuk sekolah. Pasalnya, sebut saja Bunga, hingga saat ini merasa trauma dan ketakutan atas tindakan pencabulan yang dilakukan seorang guru.

Oknum guru bejat tersebut informasinya sudah melakukan perbuatan cabul kesejumlah anak yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD).

Menurut keterangan dari beberapa sumber, dugaan tersebut melibatkan beberapa anak, di antaranya dua anak perempuan serta seorang anak laki-laki. Dugaan tersebut kini menjadi perhatian wali murid dan masyarakat setempat.

Salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, persoalan tersebut sudah diketahui oleh sejumlah warga di desa setempat. Bahkan, menurutnya, pernah dilakukan pertemuan di salah satu rumah untuk membahas persoalan tersebut. 

Warga tersebut berharap dugaan kasus ini segera ditindaklanjuti oleh pihak Kepolisian Resort (Polres) Tebo agar persoalan tersebut dapat diketahui kebenarannya melalui proses pemeriksaan yang sesuai dengan ketentuan hukum
.
“Harapan kami pihak kepolisian segera menindaklanjuti persoalan ini. Informasinya anak yang diduga menjadi korban juga sudah tidak bersekolah lagi,” ujar warga tersebut. 

Ia menambahkan, masyarakat meminta agar identitas anak yang diduga menjadi korban tetap dilindungi dan proses penanganannya dilakukan secara serius demi kepentingan serta keselamatan anak.

Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai dugaan tersebut, kepala sekolah SD yang bersangkutan membantah informasi tersebut. Kepala sekolah menyebutkan bahwa dugaan pelecehan sebagaimana yang disampaikan warga itu tidak benar.

Saat dikonfirmasi Kasat Reskrim Polres Tebo AKP, Very Prasetiawan membenarkan, unit ppa sudah memeriksa korban. "Hari Jumat akan kita jadwalkan pemanggilan terhadap Kepsek dan guru, untuk diminta keterangan," ungkap Kasat saat ditemui di ruang kerjanya.

Redaksi

Pelayanan Perdana Pengisian BBM Avtur Pesawat Batik Air

 

Wabup Tebo  Hadiri  Pelayanan Perdana Pengisian Bahan Bakar Avtur

TEBO — Wakil Bupati Tebo menghadiri pelayanan perdana pengisian bahan bakar avtur untuk pesawat Batik Air yang dilaksanakan di Bandara Muara Bungo, Rabu (23/9).

Pelayanan perdana ini menjadi bagian dari dukungan terhadap operasional penerbangan Batik Air di Bandara Muara Bungo. Kehadiran layanan pengisian avtur turut menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran operasional penerbangan serta pelayanan transportasi udara di wilayah sekitar.

Redaksi

22 September, 2026

Wabup Tebo Kukuhkan Forum Kepatuhan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

 

Wabup Hadiri dab Kukuh Forum Kepatuhan  Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

TEBO — Wakil Bupati Tebo menghadiri sekaligus mengukuhkan Forum Kepatuhan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kabupaten Tebo yang berlangsung di Aula Melati Kantor Bupati Tebo, Selasa (22/9).

Pengukuhan forum ini menjadi langkah untuk memperkuat koordinasi dan sinergi berbagai pihak dalam mendorong kepatuhan terhadap penyelenggaraan jaminan sosial ketenagakerjaan di Kabupaten Tebo.

Melalui forum tersebut, diharapkan komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, serta pihak terkait dapat semakin kuat dalam meningkatkan perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja.

Redaksi

Bupati Tebo Hadiri Pelantikan PC Muslimat NU Kabupaten Tebo Periode 2026–2031

 

Bupati Hadiri Pelantikan C Muslimat NU

TEBO — Bupati Tebo menghadiri Pelantikan Pengurus Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tebo Periode 2026–2031 yang dilaksanakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tebo, Selasa (22/9).

Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran organisasi Muslimat NU di Kabupaten Tebo, sekaligus mempererat sinergi dalam berbagai bidang kemasyarakatan, keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan keluarga.

Dengan dikukuhkannya kepengurusan periode 2026–2031, diharapkan Muslimat NU Kabupaten Tebo dapat terus berkontribusi melalui program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung penguatan nilai keagamaan dan kehidupan sosial.

Redaksi

21 September, 2026

Penyataan Ansori Hasan Soal Tebo Mundur Gelar MTQ, Tak Diduga Point 3 Bikin Merinding

 

Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jambi, Ansori Hasan saat hadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jambi

JAMBI - Mundurnya Kabupaten Tebo menjadi Tuan Rumah pada penyelenggaran MTQ tingkat Provinsi tahun 2027, memancing rasa kecewa Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jambi Ansori Hasan. Pasalnya pernyataan Kabupaten Tebo mundur dengan dalih keterbatasan anggaran dinilai Ansori terlalu terburu-buru. ini disampaikan dia pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jambi dihadapan Ketua dan anggota DPRD Provinsi Jambi, Gubernur serta jajarannya, Senin (21/9/26).

Berikut ini beberapa pernyataan Ansori Hasan yang sangat penting dan menyangkut harga diri, semangat, serta harapan masyarakat Kabupaten Tebo  diantaranya, Dirinya menyampaikan secara terbuka bahwa tidak setuju apabila Kabupaten Tebo mundur sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Jambi Tahun 2027. Amsori juga memahami bahwa penyelenggaraan MTQ membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

"Saya juga memahami kondisi fiskal daerah dan berbagai keterbatasan yang dihadapi pemerintah daerah.
Tetapi menurut saya, persoalan anggaran tidak seharusnya langsung menjadi alasan untuk menyerah dan membatalkan amanah sebagai tuan rumah.
Ketika Tebo ditetapkan sebagai tuan rumah, sesungguhnya yang diberikan bukan hanya sebuah acara. Yang diberikan adalah kepercayaan.
Kepercayaan dari Pemerintah Provinsi Jambi. Kepercayaan dari masyarakat Provinsi Jambi. Dan kepercayaan kepada masyarakat Kabupaten Tebo untuk menjadi tuan rumah bagi seluruh kafilah dari kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi," beber Ansori penuh haru.

Sebagai Anggota DPRD Provinsi Jambi dapil Bungo-Tebo diriinya khawatir apabila  mundur hanya karena persoalan anggaran, masyarakat akan melihat bahwa Tebo tidak mampu memegang amanah yang sudah diberikan.
Padahal dirinya yakin, masyarakat Tebo adalah masyarakat yang memiliki semangat gotong royong dan mampu menjadi tuan rumah yang baik.

"Bagi kami, MTQ bukan sekadar kegiatan seremonial. MTQ adalah bagian dari syiar Islam. MTQ adalah ruang untuk membangun generasi Qur’ani. MTQ juga menjadi momentum untuk memperkenalkan Kabupaten Tebo kepada masyarakat Jambi dan daerah-daerah lainnya,"terang Ansori.

"karena itu, jangan kita melihat MTQ hanya dari berapa besar biaya yang harus dikeluarkan. Kita juga harus melihat nilai manfaat sosial, keagamaan, ekonomi, dan promosi daerah yang akan diperoleh Kabupaten Tebo. Pedagang akan mendapatkan manfaat. Pelaku UMKM akan mendapatkan kesempatan. Hotel, penginapan, rumah makan dan sektor transportasi akan bergerak," timpalnya.

Ansori juga paham bahwa pemerintah daerah memiliki pertimbangan kemampuan anggaran. Tetapi sebagai wakil rakyat, dirinya merasa perlu menyampaikan suara ini:

Kalau persoalannya adalah anggaran, mari kita cari jalan keluarnya. Jangan langsung mencari alasan untuk mundur.
Kalau kemampuan APBD Kabupaten Tebo terbatas, maka saya berharap Pemerintah Provinsi Jambi hadir.
Kalau masih kurang, mari kita bicara bersama. DPRD Provinsi Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Tebo, DPRD Kabupaten Tebo dan seluruh stakeholder harus duduk satu meja.
Kita hitung kebutuhan secara realistis," Ajaknya.

"Kita pangkas kegiatan yang tidak terlalu penting. Kita susun skala prioritas. Kita cari sumber pendanaan yang memungkinkan.
Dan yang paling penting, kita bangun semangat gotong royong.
Jujur pak Gubernur, saya tidak ingin Tebo Kehilangan Momentum  besar ini. Tebo sudah mendapatkan kepercayaan menjadi tuan rumah.
Maka yang harus kita pikirkan sekarang "Bagaimana caranya Tebo tetap menjadi tuan rumah dengan kemampuan anggaran yang kita miliki?” Imbuhnya lagi.

Ansori berharap Pemerintah Provinsi Jambi dapat mempertimbangkan dukungan anggaran melalui APBD Provinsi Jambi Tahun 2027 untuk membantu penyelenggaraan MTQ di Kabupaten Tebo. Selain itu kata dia, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dunia usaha, BUMN, BUMD dan seluruh masyarakat dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.

Hal tersebut kata dia, bukan berarti seluruh beban harus ditanggung APBD. Ansori yakin persoalan ini bisa dilakukan dengan cara gotong royong. Kabupaten Tebo Harus Berani Menjadi Tuan Rumah. dirinya  percaya masyarakat Tebo tidak meminta sesuatu yang berlebihan. masyarakat Tebo hanya ingin membuktikan bahwa ketika diberi amanah, Tebo mampu menjadi tuan rumah yang baik.

"Kita mungkin tidak perlu membuat MTQ yang paling mewah.
Tetapi kita harus membuat MTQ yang paling berkesan, paling bersahabat, paling merakyat, dan paling terasa manfaatnya bagi masyarakat. Karena yang kita rayakan bukan kemewahan acaranya. Yang kita muliakan adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu, melalui forum yang terhormat ini, saya meminta kepada Pemerintah Provinsi Jambi untuk tidak terburu-buru menerima keputusan Kabupaten Tebo untuk mundur sebagai tuan rumah MTQ Provinsi Jambi Tahun 2027," sebut Ansori penuh harap.

Penyataan penting sebagai penutup Ansori meminta agar bisa dicari solusi. dirinya mengajak stokeholder duduk bersama, hitung ulang.
sehingga diharapkan masih ada jalan, guna pertahankan Tebo sebagai tuan rumah.

Kalau ada masalah anggaran, kita cari anggarannya. Kalau ada kekurangan fasilitas, kita cari solusinya. Kalau ada keterbatasan kemampuan, kita gotong royong.
Tetapi jangan menyerah sebelum seluruh ikhtiar kita lakukan.
Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk mengambil keputusan terbaik bagi masyarakat Tebo dan Provinsi Jambi.

Redaksi

Edukasi

Politik

Teknologi